Home > Keuangan Negara > Terorisme vs Belanja Negara

Terorisme vs Belanja Negara

Genap sudah sebulan Jakarta kembali diguncang bom. Tepatnya di hotel Ritz Carlton dan lagi-lagi di hotel JW Marriot. Tragis. Sembilan nyawa melayang dengan sia-sia. Belum lagi kerusakan fisik pada bangunan maupun fasilitas umum lainnya.  Ini melengkapi catatan kelam yang berawal dari tragedi bom Bali.  Inilah model bencana yang baru muncul di Indonesia selewat tahun 2000. Esok hari, bencana itu sangat mungkin terulang kembali dan kita tidak tahu kapan dan di mana terjadinya.

Sebelumnya tak banyak orang yang menyangka bahwa di Indonesia akan timbul gerakan teror yang mengatasnamakan Islam dengan skala sebesar itu. Namun sebenarnya tak kurang dari 20 tahun yang lalu, gerakan sesat itu mulai tumbuh di Indonesia. Berawal dari kesalahan dalam memahami ayat-ayat Allah, yaitu sifat ekstrim dalam mengkafirkan orang-orang yang sebenarnya tidak tepat untuk dicap kafir. Yang demikian ini sebenarnya hanya mengikut saja pada pemahaman khawarij yang melakukan pemberontakan pada zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib pada 1400 tahun yang lalu. Tepatlah perkataan bahwa sejarah selalu terulang.

“Takfir atau mengkafirkan orang lain tanpa bukti yang dibenarkan oleh syari’at merupakan sikap ekstrim, dan akan selalu memicu persoalan, yang ujung-ujungnya ialah tertumpahnya darah kaum muslimin secara semena-mena. Berawal dari takfir dan berakhir dengan tafjir (peledakan).”

Dikutip dari sini.

Lalu mulai tersadarlah kita bahwa ada bahaya yang tak kalah dahsyatnya dengan bencana alam. Yakni bencana yang berawal dari sebuah kesalahan ideologi, kesalahan pemahaman.

Adapun kerugian (negara) akibat kegiatan teror itu sebenarnya menjadi beban bagi seluruh warga negara ini. Betapa tidak, uang yang dipungut dari warga negara yang sedianya digunakan untuk membangun negara, mau-tidak mau harus dialokasikan untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkannya, untuk mencegah dan memberantas tindakan orang-orang tersebut. Dan itu tidak murah.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya? Salah satu aspek yang perlu diperbaiki untuk mencegah potensi kerugian tersebut adalah dengan memperkuat pengendalian, baik dalam tataran pengendalian detektif, preventif maupun korektif. Mengapa? Karena pengendalian yang efektif akan lebih murah biayanya daripada memperbaiki kerusakan yang mereka timbulkan.

Pengendalian detektif dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Waspada terhadap tetangga yang mencurigakan, waspada terhadap kelompok-kelompok yang mengadakan pertemuan-pertemuan (pengajian) rahasia. Kemudian segera melaporkannya kepada aparat hukum. Yang demikian akan lebih mengena, karena tidak mungkin kita hanya mengandalkan pada intelijen pemerintah yang jumlahnya terbatas.

Pengendalian preventif, dapat dilakukan dengan pendidikan dan pengajaran agama yang tepat. Yang demikian merupakan kunci pokok dalam pemberantasan terorisme. Tidaklah Nabi Muhammad mengajarkan terorisme seperti ini kepada umatnya. Dalam banyak ayat dan hadist, ajaran untuk mengesakan Allah diikuti dengan perintah untuk berakhlak baik kepada keluarga, tetangga, orang yang berada di bawah tanggungan, dan bahkan kepada orang-orang yang sedang dalam perjalanan (musafir). Kiranya kerja sama antara pemerintah dengan ulama mutlak diperlukan. Dan kita dapat berpartisipasi dengan mempelajari ideologi pemahaman yang benar, mengajarkan kepada keluarga lalu kepada lingkungan kita. Dan sangat patut bagi pemerintah untuk melakukan seleksi atas informasi yang masuk kepada masyarakat. Ya, perlu ada sensor informasi. Betapa risiko kebebasan informasi pada saat ini benar-benar terjadi, telah timbul kerusakan yang besar di negeri ini. Adapun pendukung kebebasan informasi, saya yakin bahwa mereka akan melemparkan tanggung jawab ketika mereka ikut disalahkan atas apa yang mereka perjuangkan. Dan mereka tidak akan mau dan mampu bertanggung jawab. Kallaa wa tsumma kallaa.

Adapun pengendalian korektif dapat dilakukan dengan pendekatan oleh para alim atau pemerintah kepada orang-orang yang terlibat teror tersebut untuk meluruskan kesalahan mereka. Dan jika mereka lebih memilih kepada jalan yang sesat hendaklah pemerintah memberikan hukuman yang keras kepada mereka agar mereka berhenti dari perilaku menyimpang mereka dan yang demikian tidak ditiru oleh yang lain.

Semoga kita dihindarkan dari kejahatan yang demikian dan kita tidak dijadikan berperilaku demikian. Aamiin.

Wallahua’alam.

gambar dicomot dari sini.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: